Hal-hal yang saya lakukan setelah menginstal Ubuntu

Kemarin sudah berhasil menginstal Ubuntu 20.04 LTS di laptop, sekarang saya ingin membagikan hal-hal esensial apa saja yang saya lakukan setelah menginstal Ubuntu.

Saya akan melanjutkan prosesnya dari kemarin, yaitu setelah restart sistem untuk pertama kalinya.

Setelah mencabut flash drive dan memulai ulang, maka laptop akan boot sistem Ubuntu yang sudah terinstal di SSD. Login menggunakan user dan password yang kemarin dibuat di poin 13.

Initial Setup


Pertama kali masuk desktop, Anda akan disuguhi beberapa jendela initial setup.

1. Livepatch

Livepatch.

Berguna untuk melakukan upgrade kernel dan security secara otomatis di background sehingga meminimalisir restart sistem setelah upgrade. Membutuhkan login ke akun Ubuntu One.

Saya memilih tidak mengaktifkan Livepatch.

2. Help improve Ubuntu

Help improve Ubuntu.

Melaporkan ke Canonical untuk membantu developer menganalisis permasalahan yang mungkin muncul saat proses instalasi. Hal-hal yang dilaporkan termasuk model komputer/laptop, software-software yang terpasang, dan zona waktu.

Saya tidak melaporkan.

3. Privacy

Privacy.

Layanan lokasi, sepertinya tergantung pada IP address koneksi internet yang digunakan, karena mayoritas laptop tidak mempunyai perangkat GPS.

Saya tidak mengaktifkan location services ini.

4. You're ready to go!

Ready to go.

Seharusnya jendela ini memuat daftar software populer dari Ubuntu Software. Namun karena saya belum menghubungkan laptop ke wi-fi, maka tidak terlihat apa-apa. Hanya animasi loading saja yang kelihatan.

Saya langsung mengeklik tombol Done.

Kemudian saya menghubungkan laptop ke koneksi wi-fi di rumah.

Update & Upgrade


Langkah pertama setelah menginstal Ubuntu adalah memperbarui dan memutakhirkan software.

Karena ISO Ubuntu yang saya gunakan untuk menginstal ini keluaran bulan April 2020 (berdekatan dengan tanggal rilis Ubuntu 20.04 LTS), bahkan saat ini Ubuntu sudah mengeluarkan point release versi 20.04.1, maka update awal ini ukurannya sangat besar.

sudo apt update && sudo apt dist-upgrade

Perintah upgrade Ubuntu.

Lebih dari 400 MB. Meskipun saya sudah menginstal yang versi “Minimal installation”.

Menginstal bahasa


Buka aplikasi Language Support. Pertama kali dibuka, Ubuntu akan meminta untuk menginstal bahasa yang diperlukan oleh sistem, termasuk Bahasa Indonesia.

Language Support.

Setelah instalasi bahasa selesai, di tab Regional Formats, ubah format ke Bahasa Indonesia agar sistem bisa menggunakan satuan Rupiah, format waktu Indonesia, dll, klik tombol Apply System-Wide.

Untuk bahasa sistem (menu dan windows) di tab Language biarkan saja English karena kalau bahasa Indonesia malah tidak familiar dan kelihatan aneh.

Menghubungkan akun Google ke GNOME


Buka Settings › Online Accounts › Add an account › Google, login menggunakan Google credential Anda.

Online Accounts.

Saya biasa menghubungkan akun Google agar bisa menyinkronkan event dari Google Calendar dan bisa mengakses Google Drive dari file manager.

Google Drive di Files.
Google Drive bisa dimount langsung melalui file manager Ubuntu.

Menginstal software esensial


Saya adalah penggemar teknologi legacy, tidak terkecuali dengan software. Saya lebih suka menginstal software melalui apt daripada snap.

Meskipun versinya ketinggalan, namun software apt lebih mudah menyatu dengan sistem. Belum semua software snap terintegrasi dengan baik di sistem, kadang tidak bisa memuat font, kadang temanya jadul, dan lain-lain.

Saya memasang beberapa software esensial melalui apt menggunakan perintah sudo apt install nama_software, seperti:

  • Synaptic sebagai katalog software apt, pengganti Snap Store atau Ubuntu Software
  • GDebi sebagai installer file deb
  • LibreOffice Writer dan LibreOffice Calc sebagai editor dokumen perkantoran
  • VLC sebagai pemutar audio dan video
  • Inkscape sebagai editor gambar vector
  • GIMP sebagai editor gambar bitmap
  • KeePassXC sebagai manager password
  • Shotwell sebagai manager foto
  • Thunderbird sebagai manager email

Saya juga memasang software dalam format deb menggunakan GDebi, seperti:


Saya juga memasang paket yang berguna namun tidak disertakan oleh Ubuntu menggunakan perintah sudo apt install nama_software juga, seperti:

  • unrar, untuk mengekstrak file kompres dengan format rar
  • ffmpeg, untuk mengedit file audio maupun video melalui command line
  • git, sebagai version-control system

Merapikan icon di launcher GNOME


Tinggal di drag and drop saja agar terorganisir dengan baik.

Launcher sebelum dirapikan.
Sebelum dirapikan.

Launcher setelah dirapikan.
Setelah dirapikan.

Screenshot launcher di atas saya ambil setelah instalasi dan sebelum memasang software.

Jadi itu adalah kondisi “minimal installation”, software tambahan yang terpasang hanya browser Firefox. Belum ada aplikasi office, multimedia, security, games, dan lain-lain. 

Tapi justru yang saya inginkan adalah seperti itu. Saya ingin menginstal aplikasi hanya yang saya butuhkan, tidak ingin ada banyak aplikasi tidak berguna yang ikut terpasang bersama sistem.

Menonaktifkan extension GNOME


Saya menonaktifkan seluruh extension GNOME Shell bawaan Ubuntu, yaitu Desktop Icons, Ubuntu AppIndicators, dan Ubuntu Dock. Supaya lebih murni menggunakan lingkungan GNOME.

Instal gnome-tweaks atau gnome-shell-extension-prefs, jalankan aplikasinya, kemudian nonaktifkan seluruh extensionnya. Ubah toggle ke posisi nonaktif.

GNOME extension nonaktif.

Apa lagi ya? Sementara ini dulu. Nanti kalau ada tambahan, saya perbarui pos ini.
Bagikan ke dan

Komentar