Hal-hal yang kulakukan setelah menginstal Ubuntu 20.04 LTS

Kemarin aku menginstal Ubuntu 20.04 LTS lagi setelah sebelumnya mencoba Pop!_OS 20.04 LTS.

Di tulisan ini aku ingin membagikan dokumentasi mengenai hal-hal apa saja yang kulakukan dan aplikasi-aplikasi apa saja yang aku instal di Ubuntu 20.04 LTS. Aku menginstal aplikasi penting dan hanya yang aku butuhkan untuk mendukung pekerjaan.

Pembahasan berbagai aplikasi ini adalah pilihan pribadiku, berdasarkan sudut pandangku, dan belum tentu yang terbaik. Mungkin kamu lebih cocok menggunakan aplikasi lain yang mempunyai fungsi sama, ya silakan saja.

Aku akan memulainya dari setelah proses instalasi di tulisan kemarin.

Initial Setup


Kemarin sampai di instalasi saja kan, sampai mencabut media instalasi dan menekan Enter. Komputer akan melakukan restart dan boot ke sistem baru.

Login menggunakan user dan password yang kemarin sudah dibuat di proses instalasi.

Pertama kali masuk desktop, aku menemui beberapa jendela initial setup.

1. Livepatch


Setup Livepatch.

Livepatch berfungsi melakukan upgrade dan patch kernel secara otomatis di belakang layar, sehingga tidak perlu sering merestart komputer. Wajib login ke akun Ubuntu One untuk menggunakan fitur ini.

Karena aku tidak suka snap, dan Livepatch berbasis snap, aku tidak ingin menggunakan fitur ini.

2. Help improve Ubuntu


Help improve Ubuntu.

Barangkali ingin membantu pengembang Ubuntu dengan cara mengirimkan laporan bug, error, dan log proses instalasi ke Canonical. Beberapa informasi seperti model komputer, software terpasang, dan perkiraan lokasi berdasarkan pilihan saat proses instalasi (Asia/Jakarta), akan termasuk dalam laporan yang dikirim ke server mereka.

Aku memilih tidak mengirimkan.

3. Privacy


Setup location services.

Fitur lokasi geografis. Kalau laptop umumnya belum mempunyai GPS sehingga lokasi yang tercatat di log biasanya tergantung IP address koneksi internet. Kalau pakai Indihome, kadang dapat lokasi Surabaya, Sidoarjo, Surakarta, Yogyakarta, Semarang, dan lain-lain.

Aku memilih mematikan fitur lokasi.

4. You're ready to go!


You're ready to go!

Di jendela terakhir ini seharusnya menampilkan beberapa aplikasi dari Ubuntu Software, namun karena aku belum terhubung ke internet ya tidak muncul apa-apa. Hehe. Langsung klik tombol Done saja.

Ubuntu Minimal Installation


Kemarin aku menginstal Ubuntu versi minimal installation. Aplikasi yang terpasang memang minimalis. Hanya ada browser Firefox dan beberapa aplikasi basic bawaan sistem. Belum ada aplikasi multimedia, office, email, grafis, dan lain-lain.

Aplikasi Ubuntu minimal installation.

Aplikasi Ubuntu minimal installation 2.

Tapi inilah poinnya. Aku tidak ingin sistem awal penuh dengan bloated software, aplikasi yang tidak kugunakan. Itu alasanku memilih minimal installation. Sekarang aku bebas memilih dan menginstal sendiri aplikasi apa saja yang aku butuhkan.

Aku menghubungkan laptop ke jaringan Wi-Fi di rumah. Membutuhkan koneksi internet yang kuotanya besar untuk memasang aplikasi di Ubuntu.

Hal yang kulakukan setelah menginstal Ubuntu


Hal esensial pertama yang perlu dilakukan setelah pertama kali memasang sistem operasi baru, baik Windows ataupun Ubuntu, baik di laptop maupun server, adalah melakukan update software. Sangat penting untuk selalu memperbarui sistem, karena berguna untuk menambal celah keamanan dan memperbaiki bug atau error.

ISO installer Ubuntu yang aku gunakan untuk instal ulang ini dikeluarkan pada saat rilis Ubuntu 20.04 LTS, bulan April kemarin. Sudah berjalan 2 bulan. Makanya, ukuran update sistem perdana ini lumayan besar.

Ubuntu bisa diupdate dengan perintah Terminal:

sudo apt update && sudo apt upgrade -y

Update via Terminal.
Update melalui Terminal.

Atau kamu bisa menunggu Software Updater menampilkan permintaan pemutakhiran.

Update via Software Updater.
Update melalui Software Updater.

Sama saja. Tinggal pilih metode CLI atau GUI.

Selesai upgrade, saatnya memasang aplikasi yang dibutuhkan.

Aplikasi yang kupasang setelah menginstal Ubuntu


Aku akan membahas aplikasi penting apa saja yang biasanya aku gunakan.

1. Synaptic Package Manager


Setelah upgrade, Ubuntu Software menjelma menjadi Snap Store. Katalog aplikasi bawaan Ubuntu 20.04 LTS ini lebih mengutamakan aplikasi snap, sedangkan aku belum cocok dengan snap. Aku lebih senang menginstal aplikasi apt biasa dari repositori Ubuntu.

Itulah alasanku memasang Synaptic Package Manager. Ini adalah versi GUI dari apt, merupakan katalog apt yang mengambil sumber repositori Ubuntu maupun sumber pihak ketiga lainnya yang kamu tambahkan sebagai source.

Synaptic Package Manager bisa diinstal menggunakan perintah Terminal:

sudo apt install synaptic

2. GDebi Package Installer


GDebi Package Installer berguna untuk memasang file.deb lengkap dengan seluruh dependensinya. Tidak perlu lagi menggunakan perintah Terminal sudo dkpg -i file.deb untuk menginstal aplikasi, dilanjutkan dengan sudo apt install -f untuk menginstal dependensi.

Cukup membuka file manager, klik kanan file.deb, pilih opsi instal menggunakan GDebi (kalau tidak kelihatan, pilih Open With Other Application, lalu setel GDebi Package Installer sebagai default untuk membuka file.deb).

sudo apt install gdebi

3. Rhythmbox


Aplikasi pemutar audio favoritku. Ringan, bekerja dengan baik, bisa dijalankan di belakang layar pula. Kadang kugunakan untuk menjalankan audio white noise ketika menulis kode dan konten, lumayan untuk membantu fokus.

Tidak lupa memasang codec non-free supaya bisa menjalankan lebih banyak format audio lain, seperti mp3 dan m4a.

sudo apt install rhythmbox gstreamer1.0-libav gstreamer1.0-plugins-ugly gstreamer1.0-plugins-bad

4. VLC media player


Aplikasi pemutar video favoritku. Bisa menjalankan hampir semua format video, dari format lama hingga terbaru.

Sayang di laptopku VLC kadang error. Tidak bisa keluar dari aplikasi ketika menjalankan video. Jendelanya hilang, namun prosesnya masih ada di System Monitor. 

Solusi sementara yang berhasil adalah dengan mematikan Hardware-accelerated decoding di Tools > Preferences > Input/Codecs > Hardware-accelerated decoding, ubah dari Automatic menjadi Disable.

sudo apt install vlc

5. LibreOffice


Aku tidak memasang keseluruhan paket aplikasi LibreOffice, melainkan hanya yang kubutuhkan saja, antara lain Writer, Calc, dan Impress. Writer untuk membuat surat-surat atau ebook, Calc untuk membuat laporan stok dan keuangan, Impress untuk membuat presentasi.

Tidak lupa memasang paket gtk3 supaya themenya menyesuaikan dengan GNOME, tidak kelihatan jadul.

sudo apt install libreoffice-writer libreoffice-calc libreoffice-impress libreoffice-gtk3

6. GIMP (GNU Image Manipulation Program)


Aplikasi pengolah gambar favorit. Sering aku gunakan untuk mengedit foto dan mengolah gambar untuk dipublikasikan di blog dan media sosial. Termasuk screenshot-screenshot di blog ini juga aku sunting dulu di GIMP untuk mengecilkan ukuran supaya tidak memberatkan loading.

sudo apt install gimp

7. Inkscape


Aplikasi untuk membuat gambar berbasis vektor. Biasanya kugunakan untuk membuat logo, favicon, kata mutiara, infografis, dan gambar vektor lainnya.

sudo apt install inkscape

8. Shotwell


Aplikasi manajemen foto favoritku. Bisa mengimpor foto dari media eksternal seperti kamera digital atau smartphone, dan menyimpannya secara hierarki berdasarkan waktu pengambilan gambar, dikelompokkan per folder tahun, bulan, dan tanggal.

Aku sempat mencoba-coba aplikasi photo manager lainnya, namun belum ada yang sebaik Shotwell. Ada editor foto juga sih, tapi aku hanya senang menggunakan fitur importernya.

sudo apt install shotwell

9. KeePassXC


KeePassXC merupakan aplikasi password manager favoritku. Aku punya ratusan akun di dunia maya, masing-masing menggunakan password berbeda yang bahkan aku sendiri tidak hafal karena merupakan kombinasi angka, huruf, kapital, dan karakter spesial. Aplikasi ini membantu mengelola password untuk akun-akunku tersebut.

Aplikasi ini merupakan fork dari aplikasi original KeePass, dengan fitur yang lebih berguna, misalnya bisa membuka lebih dari satu database password dalam satu jendela saja.

sudo apt install keepassxc

10. Thunderbird


Sampai sekarang aku masih mengandalkan Thunderbird untuk menghandle banyak akun email. Maklum, emailku yang saat ini aktif kugunakan cukup banyak. Bukan untuk spam lho ya, masing-masing sudah punya tugas sendiri, hehe. 

Ada email dari Gmail, Outlook, Yahoo, Zoho, semuanya bisa rukun dan sinkron bersamaan di satu aplikasi Thunderbird.

sudo apt install thunderbird

11. Google Chrome


Alternatif Firefox. Sebenarnya aku ingin menggunakan Chromium, sayangnya developmentnya sudah beralih ke snap dan meninggalkan apt. Jadi terpaksa pakai Google Chrome.

Hal yang aku suka dari browser berbasis Chromium ini adalah, dia punya fitur multi user atau multi profile, sehingga aku bisa login bersamaan di satu website namun menggunakan beberapa akun berbeda yang masing-masing punya container sendiri.

Kalau di Firefox harus memasang addons untuk menggunakan fitur container ini.

Versi debnya bisa didapatkan di halaman download Google Chrome. Selesai download, debnya bisa diinstal menggunakan GDebi Package Installer.

12. Visual Studio Code


Untuk menulis code HTML dan CSS, aku menggunakan Visual Studio Code. Meskipun launchingnya agak berat (kira-kira delay 1 - 2 detik) tapi kalau sudah terbuka aplikasi ini lancar untuk mengetik. Tersedia berbagai macam ekstensi untuk mendukung dan mempermudah menulis bahasa pemrograman yang sedang dikerjakan.

Versi debnya bisa didapatkan di halaman download VS Code. Setelah download, bisa diinstal menggunakan GDebi Package Installer.

Kalau kamu penggemar snap, VS Code juga tersedia di repository snap, bisa diinstal melalui Snap Store atau perintah Terminal:

sudo snap install code



Apa lagi ya? Kurasa itu dulu beberapa aplikasi penting yang biasanya kupasang setelah menginstal Ubuntu, khususnya Ubuntu 20.04 LTS yang sedang dibahas.

Karena aku sudah memasang Ubuntu 20.04 LTS, maka di pos-pos selanjutnya yang dalam kategori panduan, semua akan kupraktikkan menggunakan sistem Ubuntu 20.04 LTS.

Tidak ada komentar: