Pengalaman melahirkan di Rumah Sakit Hermina Surakarta

Pemandangan belakang Rumah Sakit Hermina Surakarta.

Pertama, bukan aku yang melahirkan, melainkan istriku.

Dan kedua, aku bukan menceritakan “pengalaman melahirkan” misalnya bagaimana rasanya perut mules-mules, melainkan pengalaman mengantar dan menemani proses persalinan istri di Rumah Sakit Hermina Surakarta, dari sudut pandang suami.

Aku tulis sesuai kronologi.

15 Januari 2020.


Hari ini adalah jadwal kontrol terakhir ke dokter spesialis kebidanan, yang bertepatan dengan hari perkiraan lahir (HPL).

Hasil ultrasonografi (USG) menunjukkan perkiraan berat bayi sudah mencapai 3,7 kilogram! Dan istri belum merasakan tanda-tanda mau melahirkan (baca: mules-mules).

Dokter memutuskan untuk melakukan tindakan induksi persalinan hari ini juga. Mempertimbangkan bahwa berat bayi sudah mendekati empat kilogram. Khawatir kalau menunggu kontraksi alami, berat bayi akan semakin besar dan risiko persalinan juga semakin tinggi untuk ibu dan bayi.

Aku mendaftarkan istri untuk rawat inap. Sembari menunggu kamar disiapkan, aku menghubungi ibu dan mertua, mengabari bahwa dokter akan melakukan tindakan induksi persalinan.

Isya, istri diantar menuju kamar bersalin setelah sebelumnya dipasangi infus di tangan kiri.

Induksi persalinan menggunakan metode oksitosin. Hormon oksitosin buatan akan diinjeksikan melalui infus. Sebagai informasi, hormon oksitosin adalah hormon yang memicu kontraksi rahim pada proses persalinan wanita.

Pemeriksaan fetal distress.


Alat kardiotokografi alias CTG.
Bukan trading, melainkan alat CTG.
Sebelum memulai prosedur induksi, terlebih dahulu kondisi bayi diperiksa apakah mengalami fetal distress alias gawat janin atau tidak.

Menggunakan alat kardiotokografi (CTG). Alat ini merekam kontraksi rahim, detak jantung bayi, dan gerakan aktif bayi. Bayi sehat akan merespon rangsangan dengan cara bergerak aktif. Detak jantungnya juga meningkat, namun masih dalam rentang antara 110 - 160 denyutan per menit.

Karena induksi akan memicu kontraksi dalam waktu yang tidak tentu, maka perlu diperiksa di awal, apakah kondisi bayi sehat dan memungkinkan untuk dilakukan induksi atau tidak.

Alhamdulillah, bayi dalam kandungan istri baik-baik saja.

Injeksi oksitosin #1.


Malam ini mulai diberikan injeksi oksitosin dengan debit rendah. Mempertimbangkan karena sudah malam dan istri belum istirahat dari siang, kasihan kalau kelelahan.

Aku tidur di luar kamar, di kursi tunggu di depan poliklinik eksekutif. Istri ditemani ibunya.

16 Januari 2020.


Bangun tidur, sekitar subuh, debit injeksi dinaikkan ke sedang.

Pagi harinya, kantung oksitosin pertama sudah habis. Bukaan istri dicek. Ada perkembangan, bukaan dua, dan terlihat samar bercak darah tanda bukaan. Namun istri belum merasakan mules.

Injeksi oksitosin #2.


Dokter menambah satu kantung lagi. Dengan target, habis kantung kedua ini, bukaan harus mencapai fase aktif, minimal bukaan lima.

Disetel debit sedang. Dengan debit yang sekarang, aku perkirakan kantung oksitosin kedua ini akan habis sekitar asar.

Benar saja. Sekitar jam 3, kantung kedua habis. Sayang, istri belum merasakan tanda-tanda kontraksi, tidak mules hebat, bukaan juga tidak mencapai lima.

Sectio caesaria.


Persetujuan tindakan sectio caesaria.
Persetujuan tindakan operasi sesar.
Dokter memutuskan untuk melakukan tindakan sectio caesaria alias operasi sesar. Mempertimbangkan jika diberikan satu kantung lagi, bayi bisa saja mengalami fetal distress karena kontraksi buatan terus menerus.

Istri disuruh puasa. Aku menandatangani persetujuan tindakan operasi sesar dan anestesi epidural. Belum ada kepastian jam berapa, yang jelas operasi akan dilakukan hari ini juga.

Selesai salat magrib, aku ditunggu dokter anestesi di kamar. Dokter menjelaskan mengenai anestesi epidural, bagaimana prosedur, efek samping, risiko, dan lain-lain. Meminta seluruh anggota keluarga berdoa supaya operasi berjalan lancar. Operasi akan segera dimulai dan akan berlangsung sekitar satu jam.

Istri masuk ruang pra operasi, aku menunggu di ruang tunggu, di depan ruang pasca operasi.

Sekitar jam 7 lebih seperempat, tengah menyantap makan malam, aku dipanggil masuk ke ruang pasca operasi. Kupikir ada apa-apa karena belum ada setengah jam kok sudah dipanggil. Ternyata bayi sudah dilahirkan dengan selamat.

Bayi perempuan sehat dengan berat 3,75 kilogram dan panjang 51 sentimeter.

Istri masih di dalam ruang operasi, mungkin sedang dijahit. Aku mengurusi administrasi bayi baru lahir, termasuk mendaftarkan rawat inap. Bayi akan diobservasi selama 8 jam di kamar bayi sebelum diserahkan kepada ibunya. Aku kembali ke ruang tunggu operasi.

Sekitar jam setengah sembilan, dipanggil lagi. Kali ini proses operasi sudah selesai. Istri sudah menunggu di ruang pasca operasi, masih dalam pengaruh bius setengah badan. Kuambilkan ponsel supaya tidak bosan, biar bisa WhatsApp-an atau browsing Instagram.

Ada sekitar 8 pasien di ruang pasca operasi ini yang menunggu antrean mendapatkan kamar inap. Hari ini operasi memang banyak sekali. Sepertinya malam ini harus tidur di ruang pasca operasi ini.

Aku tidur di lantai di sebelah bed istri. AC di ruangan ini dingin sekali. Tengah malam aku terbangun, kedinginan sampai menggigil. Mungkin hipotermia ringan. Aku keluar dan jalan-jalan di lorong rumah sakit untuk menghangatkan badan.

17 Januari 2020.


Sekitar jam 3 dini hari, diberi tahu kalau sudah tersedia kamar inap. Istri dipindahkan ke kamar. Aku membangunkan ibu dan mertua yang masih tertidur di ruang tunggu operasi.

Kamar VIP, dapat fasilitas AC, TV, kulkas, lemari, meja pasien, meja kursi tamu, dan kasur untuk penunggu pasien! Akhirnya bisa tidur di kasur beneran.

Sementara istri istirahat di kamar, aku pulang sebentar untuk mengubur ari-ari. Bergegas kembali ke rumah sakit setelah salat subuh.

Kamar VIP di Rumah Sakit Hermina Surakarta.
Tiduran sebentar sembari menunggu visit dokter.

Visit dokter pagi ini, mengecek kondisi jahitan. Dokter menyuruh istri untuk berlatih miring, duduk, berdiri, dan berjalan. Dokter juga menyarankan istri untuk minum ekstrak ikan kutuk untuk mempercepat penyembuhan luka.

Bayi di mana?


Aku penasaran kenapa bayi belum diantarkan ke ibunya. Padahal kemarin observasinya cuma 8 jam, ini sudah lebih dari 12 jam.

Aku menanyakannya ke kamar bayi, malah ditanya balik, istri inap di kamar berapa. Ternyata perawat di kamar bayi tidak tahu istri dirawat di kamar berapa. Kuberi tahu nomor kamarnya, tidak lama kemudian bayi diantar ke kamar.

Foto-foto untuk mengabari saudara dan sahabat.

Bayi yang belum punya nama.
Halo dunia!

18 Januari 2020.


Visit dokter pagi ini, mengganti perban. Dokter melepas infus dan kateter, dan mengizinkan pulang setelah istri bisa berdiri.

Seharian ini aku menyemangati dan membantu istri untuk berlatih duduk dan berdiri. Dibantu dengan bed rumah sakit yang bisa dinaikkan dan diturunkan menggunakan engkol. Sekitar asar, istri sudah bisa duduk di pinggiran bed.

Langkah terakhir, turun dari bed. Ini agak tricky mengingat tidak tersedia tangga kecil untuk turun, aku terpaksa menggunakan karpet dan tikar yang dilipat-lipat dan ditumpuk-tumpuk. Berhasil. Istri berhasil berdiri di lantai, dan berjalan ke kursi tamu dengan tertatih-tatih. Istri bilang lebih enak duduk di kursi tamu daripada kasur pasien, lebih empuk.

Persiapan pulang.
Aku segera mengurus administrasi kepulangan istri dan bayi. Aku pinjam kursi roda karena istri belum sanggup berjalan sendiri sampai lobi rumah sakit. Eman-eman lukanya.

Sebelum pulang, bayi dibawa ke kamar bayi untuk dimandikan. Sembari menunggu selesai dimandikan, istri mendapatkan konseling dan edukasi mengenai cara merawat bayi. Apa saja yang boleh, dan apa saja yang dilarang.

Tepat azan magrib, keluar dari parkiran rumah sakit menuju ke rumah.

Kesimpulan.


Aku puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Hermina Surakarta.

Mulai sejak konsultasi di awal kehamilan hingga selesainya proses persalinan, aku dan istri mendapatkan pengalaman yang memuaskan. Terima kasih kepada dokter, bidan, perawat, dan seluruh staf rumah sakit.

BPJS Kelas I.


Lunas sepenuhnya ditanggung BPJS.
Sebagai informasi, sejak konsultasi di awal kehamilan hingga selesainya proses persalinan, aku menggunakan BPJS mandiri kelas I. Seluruh biaya, mulai dari konsultasi dokter spesialis, USG, rawat inap, induksi persalinan, hingga operasi sesar, sepenuhnya ditanggung oleh BPJS. Termasuk biaya rawat inap bayi baru lahir, otomatis ditanggung BPJS meskipun belum didaftarkan ke kantor BPJS.

Biaya yang kukeluarkan selama rawat inap persalinan istri hanyalah buku bayi 25 ribu rupiah, parkir mobil paket 4 hari 20 ribu rupiah, dan fotokopi dokumen administrasi 10 ribu rupiah.

Tidak termasuk biaya konsumsi, makanan dan minuman untuk pengunjung, dan lain-lain.

Kamar VIP.


Mungkin kamu penasaran, BPJS kelas I kok dapatnya kamar VIP?

Berarti sama, aku juga penasaran. 😁

Saat pertama kali masuk ke kamar VIP ini, aku menduga mungkin gara-gara kamar kelas I penuh. Pikirku, nanti kalau sudah tersedia kamar kelas I yang kosong, mungkin akan dipindah lagi.

Eh ternyata sampai pulang tidak dipindah lagi. Dan tidak perlu membayar biaya naik kelas kamar.

Barangkali itu sebabnya dokter menyuruh istri untuk segera berdiri dan berjalan, dan memperbolehkan untuk pulang, karena mungkin jatah yang ditanggung oleh BPJS hanya untuk rawat inap 3 hari saja di kamar kelas I.

Entahlah, yang penting ibu dan bayi selamat dan sehat.

Komentar